NEWS UPDATE

17. Mar, 2020

Protokol Kesehatan Penanganan COVID-19 oleh KEMKES

ANDA MERASA TIDAK SEHAT
1. Jika Anda merasa tidak sehat dengan kriteria:
a. Demam 38 derajat Celcius, dan
b. Batuk/pilekistirahatlah yang cukup di rumah dan bila perlu minum Bila keluhan berlanjut, ataudisertai dengan kesulitan bernafas (sesak atau nafas cepat), segera berobat kefasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes)
Pada saat berobat ke fasyankes, Anda harus lakukan tindakan berikut:
a. Gunakan masker
b. Apabila tidak memiliki masker, ikuti etika batuk/bersin yang benar dengancara menutup mulut dan hidung dengan tisu atau punggung lengan
c. Usahakan tidak menggunakan transportasi massal

2. Tenaga kesehatan (nakes) di fasyankes akan melakukan screening suspect COVID-19:
a. Jika memenuhi kriteria suspect COVID-19, maka Anda akan dirujuk kesalah satu rumah sakit (RS) rujukan yang siap untuk penanganan COVID19.
b. Jika tidak memenuhi kriteria suspect COVID-19, maka Anda akan dirawatinap atau rawat jalan tergantung diagnosa dan keputusan dokterfasyankes.

3. Jika anda memenuhi kriteria Suspect COVID-19 akan diantar ke RS rujukanmenggunakan ambulan fasyankes didampingi oleh nakes yang menggunakanalat pelindung diri (APD).

4. Di RS rujukan, akan dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaanlaboratorium dan dirawat di ruang isolasi.

5. Spesimen akan dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan(Balitbangkes) di Jakarta. Hasil pemeriksaan pertama akan keluar dalam 24 jamsetelah spesimen diterima.
a. Jika hasilnya positif,
i. maka Anda akan dinyatakan sebagai penderita COVID-19.
ii. Sampel akan diambil setiap hari
iii. Anda akan dikeluarkan dari ruang isolasi jika pemeriksaan sampel
2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif b. Jika hasilnya negatif, Anda akan dirawat sesuai dengan penyebabpenyakit.
JIKA ANDA SEHAT, namun:
1. Ada riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke negara terjangkit COVID-19, ATAU
2. Merasa pernah kontak dengan penderita COVID-19,hubungi Hotline Center Corona untuk mendapat petunjuk lebih lanjut di nomorberikut: 119 ext 9.

3. Mar, 2020

Langkah Kemenkes Setelah Dua WNI Positif Terjangkit Virus Corona

Dua warga Depok yang merupakan seorang ibu (64 tahun) dan anak (31 tahun) telah terkonfirmasi terinveksi virus Corona dan kini dirawat di RSPI Sulianto Saroso. Pemerintah meminta publik tidak terlalu khawatir dengan kabar adanya pasien pertama virus Corona di Indonesia itu. Menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, publik mestinya tidak perlu khawatir karena penyakit flu yang biasa menjangkiti warga Indonesia justru mempunyai angka kematian lebih tinggi daripada virus Corona. "Padahal kita punya flu yang biasa terjadi pada kita, batuk pilek itu angka kematiannya lebih tinggi dari yang ini corona tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa," kata Terawan di Kantor Kemenkes, Senin (2/3/2020).
Terawan menuturkan, respons publik atas virus Corona ini disebabkan oleh cara pandang publik dalam melibat virus tersebut. "Saya sebagai Menteri Kesehatan ya saya hanya mengimbau mau dibikin horor, heboh, atau tidak, itu tergantung kita semualah, tergantung sudut pandang kita," ujar Terawan. Terawan pun menegaskan, Kemenkes bersama lembaga lainnya akan bergotong royong dalam menanggulangi penyebaran virus Corona. "Saya yakin ketahanan kesehatan nasional kita akan terjaga karena kekompakkan kita bersama saling asah, asih, asuh, bergotong royong menghadapi virus yang sebenarnya biasa saja," kata Terawan.
Mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto itu mengingatkan, imunitas dan higienitas merupakan kunci untuk menangkal virus Corona masuk ke dalam tubuh. Ia pun menyatakan, kontak langsung dengan pasien virus Corona tidak otomatis membuat virus tersebut menulari orang lain bilamana orang lain itu mempunyai imunitas yang baik.
Tak hanya berupaya menenangkan publik, Kementerian Kesehatan juga telah melakukan upaya untuk menanggulangi virus Corona. Salah satunya dengan menambah jumlah rumah sakit rujukan bagi pasien suspect Corona. Direktur Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Bambang Wibowo mengatakan, Kemenkes sebelumnya telah menyiapkan seratus rumah sakit untuk rujukan pasien suspect Corona. "Kita punya 100 rumah sakit rujukan, semua itu sudah disiapkan. Tapi kemudian ini akan diperluas karena kita harus melihat potensi itu, sedang dipersiapkan, nanti ada 32 yang akan ditambahkan untuk menjadi rumah sakit rujukan," kata Bambang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Langkah Kemenkes Setelah Dua WNI Positif Terjangkit Virus Corona", https://nasional.kompas.com/read/2020/03/03/07440941/langkah-kemenkes-setelah-dua-wni-positif-terjangkit-virus-corona?page=all.
Penulis : Ardito Ramadhan
Editor : Kristian Erdianto

23. Nop, 2018

DETEKSI DINI GANGGUAN DENGAR BAYI-ANAK

Pendengaran merupakan salah satu indra vital manusia. Apabila indra ini tidak berfungsi dengan baik, risiko gangguan bicara menjadi kemungkinan yang tidak dapat terelakkan, terutama apabila terjadi pada usia dini. Risiko ketulian yang terjadi pada bayi baru lahir bearda pada angka 2%. Berkaitan dengan kasus ini, tes atau skrining pend¬engaran harus dilakukan tidak hanya untuk mendeteksi namun juga menghindari terjadinya risiko gangguan pendengaran. Pada pasien dengan umur di bawah satu tahun, rehabilitasi pendengaran masih sangat mungkin dilakukan apabila orangtua secara sigap melakukan tes pendengaran sejak dini. Tes ini menjadi penting, karena apabila dibiarkan tumbuh dengan gangguan pendengaran yang tidak dapat terdeteksi, risiko gangguan kemampuan bicara pada anak juga semakin tinggi. Secara umum, tes untuk mendeteksi gangguan pendengaran terbagi atas dua jenis, yaitu subjektif dan objektif. Salah satu tes objektif pendengaran yang marak digunakan adalah Otoacoustic emission (OAE)R. OAE adalah skrining pendengaran untuk menilai sela rambut yang terdapat di rumah siput (koklea). Tes yang menggunakan alat berbentuk earphone ini dapat mengukur getaran suara dalam liang telinga. Secara sederhana, OAE bekerja sebagai stimulan juga receiver. Stimulus yang dipancarkan melalui alat seperti earphone atau sumbatan kecil ke telinga bayi / anak selama 5 – 10 menit tersebut kemudian ditangkap oleh sel rambut dengan sebelumnya telah terlebih dahulu menggetarkan gendang telinga dan melalui tulang pendengaran. Stimulus yang tertangkap oleh sel rambut ini kemudian mengahsilkan getaran yang kembali ditangkap oleh receiver. Setelah getaran diterima oleh receiver, barulah dapat diputuskan mengenai baik atau tidaknya fungsi koklea berdasrkan perbedaan amplitudo yang telah diterima.
Biasanya, gangguan pada sel rambut terjadi pada bayi-bayi dengan kondisi prematur, tingkat bilirubi tinggi, meningitis, riwayat Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegavirus, dan Herpes pada kehamilan dan faktor genetik. Pada bayi-bayi dengan kondisi demikian, skrining OAE adalah tes yang harus dilakukan untuk mendeteksi kemampuan mendengarnya. Namun tes ini juga dianjurkan untuk dilakukan meski dengan tanpa kondisi tersebut, bahkan pada bayi yang baru berusia 2 hari.
RS Reksa Waluya telah membuka pelayanan deteksi dini skrining OAE setiap hari Rabu pukul 12.00. Konsultasi bersama dr. Tutut Sriwiludjeng, Sp.THT